Sunday, December 25, 2011

Coretan Azmii *24 Okt 2010*


Mozaik Kehidupan

          “Hahahaha.. seru banget pelantikannya!” Ica tertawa puas “Kita lari, daki gunug, main di curug, main ujan waahh pokoknya seru banget!” lanjutnya sambil mengangkat kedua ibu jarinya.
          “Betul, betul, gue setuju banget sama lo!” aku menambahkan dan kita semua tertawa. Dua hari sudah dihabiskan oleh aku dan teman-teman juga para pelatih ekskul karate SMP Negeri 3 Depok di Cibatok Bogor untuk melaksanakan acara pelantikan sabuk dan jalan-jalan seru.
          Sore ini kami sudah harus kembali pulang ke Depok “Alhamdulillah, Thanks God” tambahku dalam hati.
          “Oke, semuanya rapihin barang-barang dan masuk ke tronton” Pai Ilham memberi pengarahan. Sehabis penyematan sabuk kami berdoa dan bersiap pulang “Semua udah didalem kan? Gak ada yang ketinggalan?” Pai Ilham kembali memastikan “Oke! Jalan!”
          Tronton penuh sesak oleh kami, karena terbilang sudah sangat kelelahan akhirnya kami semua lebih banyak diam dan tertidur. Pengemudi tronton ini adalah seorang TNI yang entah siapa namanya, sedang disampingnya ada Pai Rida, Pai Laras, dan yang paling pinggir Pai Achong. Tronton yang kami naiki jalan paling duluan, disusul oleh pelatih-pelatih karate yang membawa motor, lalu dibelakang lagi pelatih kami yang membawa mobil. Sebagian dari kami juga ikut didalamnya.
          “Ueekkhhh” namanya Arkan, seorang anak cowok kelas 7 yang tiba-tiba muntah dan membuat semua yang kedapatan duduk dibawah terpaksa berdiri sesaat.
          “Minyak kayu putih sama plastik dong!” Kak Dea membantu. Tak lama masalah ini sudah mampu diatasi. Semua kembali sepi.
          Aku mulai tertidur dibahu kanan Kak Nadya saat detik-detik menebarkan itu berlangsung. “Brrraaaakkk!!” ban belakang sebelah kiri tronton yang kami tumpangi jeblos ke sebuah jurang tak terlalu dalam. “Brrreeeettt!!” tronton itu berputar 180 derajat sebelum akhirnya jatuh ke sebelah kiri.
          “Senpaiii tolooongg” jeritan dan tangisan membangunkanku, seketika tubuhku lemas dan kembali tertidur. Ku rasakan benturan yang sangat hebat dibagian pipiku, terpal tronton terbuka membiarkan sinar mentari sore menerpaku dan teman-temanku yang menjadi korban kecelakaan ini.
          “Ayo! Bangun!” suara warga meleburkan lamunanku, perlahan aku berusaha kembali bangkit meski kunang-kunang dimata tak kunjung pergi. Ku tapakkan kaki yang semakin bergetar tatkala melihat begitu banyak yang tak berdaya, begitu banyak yang menjerit, menangis, berusaha bangun, namun aku tak dapat bicara, tangisan pun tertetes begitu saja.
          “Ayo mii gue bantuin” setelah digotong warga naik ke atas, aku dituntun oleh seorang temanku menyebrangi jembatan. Kembali ku tengok nasib sobat-sobat ku yang lain, masih sama, mereka masih tak berdaya.
          Aku dibawa ke salah satu rumah warga, diteras itu aku duduk termenung. Satu per satu kawan-kawanku mulai menyusul, ada yang digotong oleh beberapa orang, ada yang hanya dituntun oleh temannya dan ada juga yang dengan ekspresi terdiam datang sendirian.
          “Kak, tulang aku patah kak! Huhuhuhu” Diana menangis sejadi-jadinya sambil meraba-raba tulang pundak bagian depannya.
          “Mana coba aku pegang?” Kak Nadya berusaha menenangkan “Kamu gak boleh asal nebak, ayo berfikiran positif” kata Kak Nadya bijak.
          Aku mulai menangis lebih keras saat sesosok lelaki berperawakan gemuk putih datang dengan wajah penuh darah dibagian pelipis “Huaahuhuhu” beberapa orang menenangkanku.
          “Ayo semuanya masuk ke dalam aja!” kata si pemilik rumah. Karena Pai Fatih, Nesya, Diana, dan Danang mendapat luka yang cukup parah, akhirnya mereka dibawa masuk ke kamar.
Satu lagi yang harus kembali aku hadapi, jerit dan tangis menyedihkan dari Pai Arlien yang mengalami luka serius dibagian kakinya “Aaaa! Sakit senpai! Tolongg senpai sakit! Huhuhu” aku mulai kembali menangis dalam dekapan lutut. Ku pendamkan wajah seakan malu bahkan hanya untuk menatap kaki yang berlalulalang dihadapanku.
“Azmii, denger! Kakinya lurusin!” Pai Rida memperingatkan. Tak lama saat ku kuatkan hati untuk menampakan wajah, tangis terpecah dibibir Pai Rida, Ia memeluk dan mencium pipiku sambil berkata “Yang sabar ya, kita beruntung enggak kenapa-napa”
Aku menangis dalam diam, Irma merangkulku sambil menunjukan senyum terbaiknya saat ini dan berkata “Alhamdulillah mii Allah masih ngizinin kita hidup, Alhamdulillah mii kita gak apa-apa, kita masih selamat” aku mengangguk tak berdaya.
Pai Joni datang dengan deraian air mata dan kata maaf yang seakan mengumpulkan kembali hal yang paling menyedihkan dihatiku. Beliau memeluk dan minta maaf pada semua anak didiknya “Maafin senpai ya, yang gak bisa jaga semua dengan baik. Maafin senpai, ini semua salah senpai” begitu tuturnya. Semakin bergetar, sosok yang kuat dan berwibawa seperti beliau terlihat begitu terpukul dibuatnya.
“Yang udah sembuh pindah ke rumah sebelah” Irma dibantu Farah jalan duluan, aku perlahan melangkah dengan sisa-sisa keseimbangan yang ku punya.
Setengah jalan aku terhenti, refleks membuat tanganku menopang pelipis kiri yang bergitu sakit terasa, dan tiba-tiba suara langkah orang berlari berhenti dibelakangku. Sebuah tangan menepuk pundak kananku dan berkata “Azmii, Ini Azmii kan?” wajahnya terlihat “Ayo yang kuat! Nominasi kuat! Nominasi kuat!” semakin heran aku dibuatnya. Ku akhiri dengan kembali melanjutkan perjalanan.
Aku memulai sholat sambil menahan tangis, yang terasa semakin pedih saat akhir doa tetesan itu melewati pipi. Aku tengok salah satu kawanku, mirisnya melihat Irma sholat terduduk karena tak kuasa hanya untuk meluruskan tangannya. Ku simpan kembali tangisan ini. Cerita sedih dari separuh potongan mozaik kehidupanku.
Note: cerita ini adalah pengalaman gue waktu di SMP, gue mulai nulis cerita ini jadi cerpen awalnya karena ada tugas dari guru B.Indonesia. tema tugsanya sih pengalaman, dan menurut gue ini cocok banget, so gue tulis ajade *lebihtepatnyaketik*. dan jadilah cerpen yang hampir gue baca seminggu sekali ini haha.


By @sayA_zmii

0 comments: